Jurnal Raya – #29

Posted by on Mar 31, 2016

Jurnal Raya

#29

 

Kalau Bapak benar-benar membaca jurnal ini dan bertanya-tanya soal jurnal #28, tidak, saya tidak ketiduran.

Kemarin, Lea memergoki saya menulisnya di lapangan belakang sekolah.

Dia merebut jurnal ini, terus kabur.

Saya mengejarnya, tapi bel keburu berbunyi.

Pulang sekolah, saya tunggu dia di depan gerbang, tapi dia tidak muncul-muncul.

Saya malah bertemu Vidi, temannya. Katanya, Lea tadi buru-buru pulang bersama Rio.

Malamnya saya memberanikan diri ke rumahnya, cuma untuk dikasih senyum-senyum menyebalkan.

Dia jelas-jelas sudah membaca semuanya dan itu memalukan sekali.

Katanya, dia tidak menyangka kalau saya semanis dan sesentimentil ini.

Rasanya saya mau muntah.

Terus katanya lagi, saya berbakat menulis.

Rasanya saya mau muntah bagian dua.

Saya meminta jurnal ini, tapi dia tidak langsung mengembalikannya.

Dia bilang, dia mau saya terus menulisnya.

Lebih bagus lagi kalau saya kirim ke penerbit.

Saya langsung tertawa setelah dia mengatakan itu.

Penerbit mana yang mau menerbitkan jurnal tidak jelas begini?

Bapak saja belum tentu mau membacanya.

Lagipula, saya menulis ini cuma karena Bapak suruh.

Setelah isinya mencapai 30, saya tidak akan menulisnya lagi.

Sekarang, saya cuma berharap Lea tidak memberitahu siapa-siapa soal jurnal ini.

Pak, saya harus menyudahi jurnal ini sampai di sini.

Barusan, saya kepikiran sesuatu.

Cewek iseng itu bisa saja sudah mengopi jurnal ini.

Sekarang saya mau meneleponnya.

 

– Raya

Share Button

One Comment

  1. Apr 1, 2016

    kirain kemarin kepotong, eh taunya kepergok! lanjut trus ya kak, mungkin ada cerita di buku selanjutnya soal raya & lea? :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *