Jurnal Raya – #26

Posted by on Dec 30, 2015

Jurnal Raya

#26

 

Hari ini, untungnya Lea datang ke lapangan belakang sekolah.

Dia sudah tidak marah, juga sudah tidak memakai kacamata (risi katanya).

Saya langsung tanya soal kekhawatiran saya kemarin.

Benar saja, Lea sudah menceritakan semuanya kepada ibunya.

Lebih tepatnya, keluarganya.

Saya yakin kejadian Hugh Grant itu jadi semacam bahan obrolan saat makan malam.

Kalau teman-temannya, ternyata waktu itu mereka menonton secara langsung.

Itu memalukan, tapi tidak sememalukan yang Lea katakan selanjutnya.

Katanya, kejadian itu sudah menyebar ke seantero sekolah.

Dan yang paling parah, sekarang saya dikenal sebagai Mister J.

Kalau ini bukan tentang saya, saya pasti sudah tertawa sampai tahun depan.

Saya cuma bisa pasrah.

Pantas saja akhir-akhir ini kalau saya lewat di koridor, orang-orang jadi berisik tidak karuan.

Teman-teman di kelas saya pun sekarang selalu cengar-cengir kalau melihat saya.

Karena pusing, saya bermaksud merokok. Tapi Lea merampasnya.

Katanya, mulai sekarang saya tidak boleh merokok lagi.

Katanya, mulai sekarang saya cuma boleh merokok dari yang dia kasih.

Dia lalu mengeluarkan seplastik rokok yang tidak pernah lihat saya sebelumnya.

Ternyata, itu permen berbentuk rokok.

Saya tidak kepikiran protes. Saya malah tertawa sampai perut saya sakit.

Lea bilang kalau dia sengaja mencarinya di internet, bahkan membeli banyak sekaligus.

Katanya untuk jaga-jaga, siapa tahu dia melihat siswa lain yang merokok juga.

Saya sendiri tidak keberatan Lea ingin saya berhenti merokok.

Selama ini, saya tidak punya cukup alasan untuk berhenti.

Sekarang, saya sudah punya alasan itu.

 

– Raya

 

 

Share Button

One Comment

  1. Jan 16, 2016

    Ahh Raya so sweet gilsss???

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *