Jurnal Raya – #18

Posted by on May 20, 2015

Jurnal Raya

#18

 

Peringatan: ini mungkin akan jadi isi jurnal paling panjang yang pernah saya tulis.

Terserah Bapak mau membacanya atau tidak. Yang penting saya sudah memperingatkan.

Jadi, hari yang paling tidak saya tunggu-tunggu akhirnya datang juga.

Sesuai rencana yang sudah saya susun, saya pura-pura sakit dengan alasan salah makan.

Ibu saya sudah bersimpati dan sibuk menyiapkan obat waktu dia menerima telepon dari ibunya Lea.

Ibu saya jadi tahu kalau malam ini ada UHSA dan saya cuma pura-pura sakit. Usaha saya pun gagal.

Ibu saya menyuruh saya pergi, tapi saya ogah.

Dia terus bilang kalau ibunya Lea yang meminta saya juga pergi. Katanya, Lea pergi dengan orang yang salah dan dia minta saya mengawasinya.

Perut saya melilit betulan waktu sadar kalau yang dimaksud ibunya Lea orang yang salah itu Dimas.

Dan orang yang menurutnya benar… yah katakan saja, saya tahu keakraban ibu saya dan ibunya Lea bukan cuma keakraban teman lama.

Kalau kata pepatah, ada udang di balik batu.

Akhirnya karena capek mengelak (ibu saya juga mengomel terus), saya berangkat juga.

Saking malasnya mencari baju, saya pakai saja seragam sekolah. Minus jumper karena belum dikembalikan juga sama Lea (kalaupun ada tidak akan saya pakai juga sih).

Waktu saya sampai di sekolah, semua orang sudah berkumpul di aula. Saya sendiri tidak langsung masuk dan mengintip dari pintu.

Karena tahun ini absen dihitung saat acara selesai, saya memutuskan untuk menyepi dulu daripada mati bosan mendengar orang-orang karaoke.

Waktu saya lagi minta izin ke kamar mandi sama panitia, saya mendengar sesuatu dari panggung.

Seorang cewek (saya yakin Barbie) memanggil Lea dan menobatkannya sebagai ratu UHSA secara sepihak.

Lea naik ke panggung, tapi dia cuma diam saja seperti patung.

Terus, Barbie mengomando semua orang untuk berteriak ‘Miss J’ sambil memeluk Dimas, yang juga sudah tertawa-tawa sambil mengangkat tangan tinggi-tinggi.

Melihat itu, saya jadi geram.

Ingin rasanya saya masuk dan memberi cowok itu pelajaran, tapi saya kembali melihat Lea.

Cewek yang biasanya punya energi besar dan luar biasa bawel itu seperti tidak berdaya di atas panggung, kelihatannya seperti mau menangis.

Lalu, dia berlari turun ke arah pintu aula. Ke arah saya.

Tapi dia lewat begitu saja, tidak menyadari kehadiran saya.

Saya mengurungkan niat saya meninju Dimas, lalu mengikuti Lea diam-diam.

Sepatu hak tinggi yang dipakainya membuat jalannya aneh. Dia akhirnya berhenti di bangku taman sekolah dan duduk di sana.

Melihat cewek ini, tidak tahu kenapa saya merasa kecewa.

Saya kecewa melihatnya tetap datang.

Saya kecewa melihatnya tidak sekuat biasanya.

Saya kecewa melihatnya menangisi cowok yang salah itu.

Tapi saya juga kasihan. Orang kadang melakukan hal tidak wajar kalau sedang jatuh cinta (ayah saya pernah bilang begitu).

Jadi saya telan bulat-bulat kalimat ‘apa kata gue’ dan menghiburnya walaupun jujur saja, ini membingungkan buat saya.

Sebelumnya, saya tidak pernah punya keinginan mencampuri urusan orang lain. Sampai saya ketemu Lea ini.

Saking bingungnya, saya tidak bisa menahan diri untuk tidak merokok.

Tapi Lea malam ini membuat saya tidak jadi melakukannya. Maksud saya, saya tidak sanggup mengganti gaunnya juga kalau misalnya kena rokok saya lagi.

Gaun pink itu juga sepertinya membuat saya semakin bingung.

Saya jadi mengajak Lea ke lapangan belakang sekolah dan menyalakan lampu yang biasa digunakan untuk pertandingan/latihan malam.

Saya tahu soal lampu itu dari penjaga sekolah yang sudah berteman dengan saya dan berbaik hati merahasiakan kalau saya mau latihan malam-malam.

Yang saya tidak tahu, kenapa saya membagi rahasia itu sama Lea.

Saya juga menyanyikan lagu ‘I Will Survive’, lagu favorit ayah saya yang jadi lagu favorit saya juga setelah dinyanyikan ulang oleh Cake.

Saya bahkan mengajak Lea berdansa di tengah-tengah lapangan.

Kalau Bapak masih membaca ini, semoga Bapak tidak muntah ya.

Sekarang setelah saya sampai di rumah dan mengenang lagi kejadian tadi sambil menulisnya, saya juga jadi mual.

Tadi, yang saya inginkan cuma dia berhenti menangis, kembali tertawa dan berdebat tidak penting dengan saya seperti biasa.

Saya cuma ingin dia kembali jadi Lea yang saya tahu.

 

– Raya

 

 

Share Button

One Comment

  1. Sep 3, 2015

    gara-gara baca ini.
    gue ngerasa raya hidup di sekitar gue………
    gue rasa gue jatuh cinta sama raya
    #LoveRaya^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *