Jurnal Raya – #7

Posted by on Jul 24, 2014

Jurnal Raya

#7

 

Pada suatu siang yang terik, di lapangan belakang sekolah, saat saya sedang tidur-tiduran seperti biasa sambil memikirkan kira-kira saya harus menulis apa untuk isi jurnal selanjutnya, sesuatu terlintas di pikiran saya.

Kemungkinan besar, Bapak tidak akan punya waktu untuk benar-benar membaca 30 isi jurnal milik 30 murid SMA labil.

Tidak ada salahnya saya menceritakan satu-dua rahasia.

Saya sempat berpikir kalau Bapak bisa membeberkannya. Tapi kalaupun saat itu tiba, saya sudah akan lulus.

Lagipula, saya tidak melihat ada orang yang akan peduli soal rahasia saya, jadi ya sudah.

Oke.

Rahasia pertama: saya tidak pernah menganggap hari Minggu hari yang spesial.

Biarkan itu terserap dulu, Pak.

Ya, saya bukan sembarang murid SMA.

Hari yang spesial buat saya adalah hari-hari di mana ayah saya libur kerja.

Ayah saya dokter, ngomong-ngomong. Jadi dia tidak punya banyak libur kerja, terutama di hari Minggu di rumah sakit di Bronx.

Dan ngomong-ngomong lagi, dia sudah tiada. Kecelakaan lalu lintas.

Saat masih ada, dia sering mengajak saya main sepakbola di halaman belakang rumah di waktu liburnya.

Katanya, orang Indonesia suka main sepakbola dan saya harus tahu itu.

Saya sih senang-senang saja, soalnya saya bisa melakukan sesuatu bersama ayah saya (walaupun dia jadi membuat saya semakin aneh di mata teman-teman sekelas saya, karena menyukai olahraga yang tidak mereka sukai).

Dia teman saya satu-satunya. Sejak dia pergi, saya tidak berminat punya teman lain.

Tapi, saat saya pindah ke Indonesia, hal itu rupanya jadi masalah.

Semua orang tiba-tiba mau jadi teman saya. Mereka mengerumuni saya, memberikan pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah saya dapatkan sebelumnya.

Saya bingung. Saya tidak terbiasa dengan orang-orang yang mau tahu tentang saya. Terus terang saja, saya juga sedikit takut.

Jadi saya menghindari mereka, menyibukkan diri dengan mengenang teman saya satu-satunya sambil berharap masa-masa SMA ini akan segera berlalu.

Wah.

Saya membuat kagum diri saya sendiri karena sudah menulis segini panjang.

Dan ini baru satu rahasia.

Saya akan mempertimbangkan untuk memberi tahu rahasia lain, tergantung bagaimana Bapak bersikap besok.

Kalau Bapak tidak menyuruh saya untuk membersihkan papan tulis, atau membagikan hasil ulangan, mungkin saya akan memberi tahu rahasia lain.

 

– Raya

 

Share Button

5 Comments

  1. Jul 24, 2014

    Wah.. Raya mulai ‘membuka’ diri.. :3

  2. Jul 24, 2014

    Pfft, really I love this person so much.. Setiap jurnal yg ditulisnya semakin meyakinkan saya sifatnya itu sesuai dengan yg saya bayangkan selama saya baca novelnya.. Keep writing, teh okke 😀

  3. Jul 28, 2014

    Omaigat Rayaaaa i love you sooo much!! Untuk Mbak Ori selamat melanjutkan karyanya yaa.. saya tunggu.. semangat dan terus berkarya..

  4. Aug 17, 2014

    Nice Kak Ori:)

  5. Oct 22, 2014

    whoaa raya mulai buka bukaan niiiih~~ bener juga sih kata raya, tugas dari 30 murid ga mungkin dibaca semua sama si gurunya xD well raya berhasil bikin aku baca ulang call me miss j:3
    lanjut kaaaak:)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *