#IndonesiaJujur: Bicara Tentang Ironi

Posted by on Jun 12, 2011

Saat saya mendengar berita contek massal di Surabaya beberapa hari lalu, saya merasa tertohok. Apa yang saya angkat di novel terakhir saya ternyata terbukti. Pendidikan kita masih sangat jauh dari kata sempurna, terutama dari sisi moralitas.

Ibu Siami, orang tua dari murid SDN 2 Gadel bernama AL, adalah satu dari sedikit pahlawan bagi pendidikan kita. Beliau segera melapor diknas begitu AL bercerita bahwa ia diminta oleh guru dan wali murid lain untuk membuat dan menyebarkan contekan saat UN. Naasnya, Ibu Siami dan keluarga malah harus dicaci maki dan diusir dari rumahnya sendiri karena dianggak sok pahlawan. (source)

Sungguh ironis, apa yang terjadi di SD yang terletak di Surabaya ini. Alih-alih menanamkan pentingnya rasa kepercayaan diri, para orangtua malah beramai-ramai menghancurkan harga diri anak-anaknya dengan menyuruh mereka menyontek. Mereka tidak pernah berpikir, anak-anak itu mungkin saja bertanya dalam hati, untuk apa bertahun-tahun belajar jika pada akhirnya saya hanya mencontek?

Para orangtua tersebut mungkin memiliki alasan tersendiri. Mungkin mereka merasa kasihan pada anak-anaknya kalau sampai tidak lulus. Tetapi wahai para orangtua, apakah dengan lulus secara tidak jujur mereka bisa bangga pada diri mereka sendiri? Apa yang akan tersisa dari diri mereka nantinya?

Mental seperti apa yang akan tumbuh dari anak-anak yang dihancurkan seperti itu? Jelas mental yang buruk. Yang menghalalkan segala cara. Tak apa harga diri hancur, yang penting lulus. Yang penting orangtua senang dan tidak malu.

Apa yang para orangtua lakukan kemarin praktisnya adalah meremehkan anak-anak mereka sendiri. Sebelum melihat kemampuan yang sebenarnya, para orangtua sudah memutuskan bahwa anak mereka tidak akan lulus sehingga mereka membutuhkan orang lain. Para orangtua seperti tidak memiliki kepercayaan terhadap anak-anak mereka sendiri. Namun demikian, mereka meneriaki Ibu Siami sebagai orang yang tidak punya hati nurani. Bicara tentang ironi.

Jika mereka memang mampu, mereka akan lulus. Jika mereka tidak lulus, orangtua bisa memberi mereka semangat untuk berusaha lebih keras. Bahwa dunia belum berakhir. Bangkit untuk berusaha mengejar ketertinggalan di kesempatan lain adalah pelajaran yang sesungguhnya.

Much education today is monumentally ineffective. All too often we are giving young people cut flowers when we should be teaching them to grow their own plants.  ~ John W. Gardner

Ada yang mengatakan bahwa ketidakjujuran ini sudah sistematis, sulit dihentikan. Oleh karena itu, mari mulai dari diri kita sendiri. Jadilah diri yang bermartabat supaya generasi penerus memiliki mental yang baik pula, seperti Ibu Siami dan AL.

Bangkit, #IndonesiaJujur!

:: Kalian punya pendapat tentang kasus contek massal ini? Sila berbagi di website Bincang Edukasi.

Share Button

One Comment

  1. Aug 24, 2013

    Suka banget sama novel Infinitely yours. 😀 Kak follback twitter aku dong @ShinSeoRin ^^
    Aku gemar banget baca novel novel karangan kakak 😀 thanks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


9 + = seventeen

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>